Tema
: Budaya Bernuansa Islam
Keanekaragaman Akulturasi Keyakinan di
Indonesia
Indonesia memiliki banyak sekali agama
dan keyakinan. Mulai dari percaya kepada Tuhan, roh halus, sampai benda – benda
mati yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Hal tersebut dikarenakan beragamnya
suku, bahasa, hingga agama yang ada di Indonesia. Masyarakat memiliki banyak
keyakinan karena memiliki maksud tertentu, seperti masyarakat memiliki
kepercayaan terhadap Tuhan karena mereka percaya adanya kehidupan setelah mati
dan dikehidupan tersebut terjadi penghakiman atas amal yang mereka perbuat
untuk Tuhan. Masyarakat memiliki kepercayaan terhadap roh halus karena para
petinggi mereka ketika meninggal memiliki kekuatan gaib sehingga dianggap suci
dan mampu membantu masyarakat yang percaya akan hal tersebut. Masyarakat
memiliki kepercayaan terhadap benda – benda mati dikarenakan benda tersebut
dipercaya memiliki kekuata gaib, sehingga mereka melakukan pemujaan terhadap
benda tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat tersebut. Sebenarnya
dahulu masyarakat Indonesia ada yang tidak memiliki agama atau keyakinan,
tetapi sekarang tidak diperbolehkan lagi.
Sebagian besar penduduk Indonesia
memeluk agama Islam. Proses masuknya Islam ke Indonesia memiliki tiga teori.
Pertama proses masuknya Islam berasal dari Gujarat. Hal ini diperkuat karena
adanya kesamaan batu nisan Sultan Maulana Malik Ibrahim dari kerajaan Samudera
Pasai dengan batu nisan yang ada di Kambay, Gujarat. Kedua yaitu masuknya Islam
berasal dari Persia yang sekarang menjadi Iran. Hal ini dilihat dari kesamaan
budaya Islam di Persia dan Islam di Indonesia, seperti lantunan zikir di Persia
sama dengan lantunan zikir di Indonesia. Ketiga berasal dari teori Buya Hamka
yang mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya yaitu Arab. Hal ini
diperkuat dengan pendapan Anthony yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia karena
adanya musafir yang berkelana ke Indonesia untuk berdakwah demi mendapatkan
hidayah.
Indonesia memiliki agama Islam yang
berbeda dengan negara lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh “Akulturasi” budaya Islam
dengan keberagaman budaya yang sudah ada sebelum Islam di Indonesia yakni
budaya Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan para pendatang yang datang ke Indonesia.
Bukti wujud akulturasi budaya Indonesia dengan
kebudayaan Islam seperti seni bangunan, seni rupa, seni sastra, sistem
pemerintahan, system kalender, dan pernikahan.
Pertama adalah seni bangunan. Wujud
akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, dan
istana. Tempat ibadah untuk orang Islam yang sering kita sebut Masjid yang ada
di Indonesia memiliki beragam bentuk di setiap daerahnya dari Sabang sampai
Merauke. Hal tersebut terjadi karena adanya akulturasi, contohnya seperti masjid
Demak yang sudah ada sejak kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam pertama
di Jawa. Masjid tersebut memiliki wujud akulturasi yang cirinya seperti,
atapnya berbentuk tumpeng, tidak dilengkapi Menara, letaknya biasanya di dekat
istana. Selain itu, terdapat bangunan makam
yang memiliki ciri wujud akulturasi dapat kita lihat dari letak bangunannya di
atas bukit atau tempat – tempat keramat, makam terbuat dari batu, dan makam terdapat kubah atau yang sering disebut
nisan. Contohnya yaitu makam Sendang Duwur di Tuban. Yang terakhir bangunan
istana, bangunan istana yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan
akulturasi dari segi arsiterktur, ragam hias, maupun dari seni patungnya.
Contohnya yaitu Istana Kesultanan Yogyakarta dengan patung penjaga Dwarapala
yang merupakan patung agama Hindu.
Kedua yaitu seni rupa. Seni ukir
relief yang menghias masjid, makam, dan unsur Islam lainnya merupakan hasil
perpaduan logam dan suluran tumbuh – tumbuhan agar ada keserasian di tengah
ragam hias yang ada di Indonesia dan agama Islam itu sendiri, biasanya terdapat
ukiran – ukiran kaligrafi terhadap hiasan tersebut. Selain ukiran, di masjid
juga ditemukan gapura – gapura pada pintu atau tiang yang bercorak di luar
Islam.
Ketiga yaitu seni sastra. Seni
sastra di Indonesia berhubungan dengan seni rupa. Hal ini dikarenakan huruf
arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif
hiasan atau ukiran. Wujud akulturasi dalam sastra terlihat dari tulisan yang
dipergunakan untuk kitab melayu dan isi ceritanya juga yang mengambil hasil
sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Bentuk seni sastra yang berkembang
adalah Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berasal dari peristiwa atau tokoh
sejarah. Babad adalah kirah rekaan pujangga keratin sering dianggap sebagai
peristiwa sejarah. Suluk adalah kitab yang berisi soal – soal tasawwuf. Primbon
adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang
berisi ramalan, keajaiban, dan penentu hari baik/buruk. Bentuk seni sastra
tersebut berkembang banyak di Melayu dan Pulau Jawa.
Keempat yaitu sistem pemerintahan. Sebelum
islam masuk ke Indonesia sudah berkembang pemerintahan bercorak Hindu atau
Buddha yang memiliki sistem pemerintahan yaitu kerajaan yang dipimpin oleh
seorang Raja yang arif, bijaksana, dan dipercaya memiliki kekuatan gaib. Namun
setelah Islam masuk maka kerajaan – kerajaan yang bercorak Hindu/Buddha
mengalami keruntuhan digantikan dengan peranan kerajaan yang bercorak Islam.
Sistem pemerintahan yang bercorak Islam juga memiliki seorang Raja yang
bergelar Sultan/Sunan. Seperti hal nya para wali dan apabila Rajanya meninggal
tidak lagi dimakamkan secara dicandi, tetapi dimakamkan secara islam.
Kelima yaitu sistem kalender.
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal
kalender Saka/Hindu yang dimulai pada tahun 78 M. Dalam kalender Saka ditemukan
nama – nama pasaran hari seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Namun setelah
berkembangnya Islam, Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender jawa dengan
menggunakan perhitungan seperti tahun hijriah (Islam). Pada kalender jawa,
Sultan Agung melakukan perubahan pada nama – nama bulan seperti, Muharram
digantikan dengan Syura, dan Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama –
nama hari tetap digunakan sesuai dengan Bahasa arab dan bahkan hari pasaran
pada kalender saka juga dipergunakan dikalender jawa. Kalender yang dibuat Sultan
Agung dimulai tanggal 1 Syura 1555 jawa tepatnya 1 Muharram 1053 H yang
bertepatan pada tangga 8 Agustus 1633 M. Biasanya pada malam 1 syura atau 1
muharram akan diadakan upacara – upacara adat di Jawa untuk menyambut datangnya
tahun baru Islam.
Yang terakhir yaitu pernikahan, cara
pernikahan di Indonesia memiliki perbedaan budaya dengan negara lain. Hal ini dikarenakan
adanya kebudayaan akulturasi dengan budaya Islam. Namun, tata cara
pernikahannya tetap sama, hanya saja ditambahkan oleh beberapa upacara –
upacara adat seperti sebelum melaksanakan ijab kobul, pada adat jawa akan
diadakan pemandian baik dari mempelai wanita maupun mempelai pria. Pada era
modern sekarang, diadakannya acara resepsi pernikahan setelah ijab kobul. Hal
ini tidak ada diajaran agama Islam tetapi, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan
dalam budaya Indonesia.
Sebenarnya hasil akulturasi budaya Islam
dengan budaya Indonesia banyak menimbulkan pro dan kontra antara masyarakat
awam dengan petinggi agama Islam seperti Ulama karena didalam akulturasi
tersebut tidak terdapat diajaran agama Islam. Namun, kita sebagai masyarakat
Indonesia yang tinggal dalam satu kesatuan dalam berbagai macam suku, bahasa,
budaya, bahkan agama harus dapat bertoleransi dan menyikapi dengan hal tersebut
demi menjaga keutuhan bangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia. Pada era modern
sekarang juga tidak bisa kita samakan dengan zaman Islam dahulu karena terlalu
banyak akulturasi yang tidak bisa dielakkan. Sebaiknya kita saling mengerti,
menghargai, dan menghormati sesama antar umat beragama sehingga pro dan kontra
yang terjadi pada saat ini dapat kita atasi. Akulturasi kebudayaan Islam yang
ada di Indonesia juga menjadi ciri khas tersendiri dan dapat menarik Wisatawana
atau Touris karena kita mampu hidup dalam berbagai macam keyakinan.