Jumat, 17 Juni 2016

Akulturasi Islam di Indonesia



Tema : Budaya Bernuansa Islam
Keanekaragaman Akulturasi Keyakinan di Indonesia
            Indonesia memiliki banyak sekali agama dan keyakinan. Mulai dari percaya kepada Tuhan, roh halus, sampai benda – benda mati yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Hal tersebut dikarenakan beragamnya suku, bahasa, hingga agama yang ada di Indonesia. Masyarakat memiliki banyak keyakinan karena memiliki maksud tertentu, seperti masyarakat memiliki kepercayaan terhadap Tuhan karena mereka percaya adanya kehidupan setelah mati dan dikehidupan tersebut terjadi penghakiman atas amal yang mereka perbuat untuk Tuhan. Masyarakat memiliki kepercayaan terhadap roh halus karena para petinggi mereka ketika meninggal memiliki kekuatan gaib sehingga dianggap suci dan mampu membantu masyarakat yang percaya akan hal tersebut. Masyarakat memiliki kepercayaan terhadap benda – benda mati dikarenakan benda tersebut dipercaya memiliki kekuata gaib, sehingga mereka melakukan pemujaan terhadap benda tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat tersebut. Sebenarnya dahulu masyarakat Indonesia ada yang tidak memiliki agama atau keyakinan, tetapi sekarang tidak diperbolehkan lagi.
            Sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Proses masuknya Islam ke Indonesia memiliki tiga teori. Pertama proses masuknya Islam berasal dari Gujarat. Hal ini diperkuat karena adanya kesamaan batu nisan Sultan Maulana Malik Ibrahim dari kerajaan Samudera Pasai dengan batu nisan yang ada di Kambay, Gujarat. Kedua yaitu masuknya Islam berasal dari Persia yang sekarang menjadi Iran. Hal ini dilihat dari kesamaan budaya Islam di Persia dan Islam di Indonesia, seperti lantunan zikir di Persia sama dengan lantunan zikir di Indonesia. Ketiga berasal dari teori Buya Hamka yang mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya yaitu Arab. Hal ini diperkuat dengan pendapan Anthony yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia karena adanya musafir yang berkelana ke Indonesia untuk berdakwah demi mendapatkan hidayah.
            Indonesia memiliki agama Islam yang berbeda dengan negara lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh “Akulturasi” budaya Islam dengan keberagaman budaya yang sudah ada sebelum Islam di Indonesia yakni budaya Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan para pendatang yang datang ke Indonesia. Bukti wujud akulturasi budaya Indonesia dengan  kebudayaan Islam seperti seni bangunan, seni rupa, seni sastra, sistem pemerintahan, system kalender, dan pernikahan.
            Pertama adalah seni bangunan. Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, dan istana. Tempat ibadah untuk orang Islam yang sering kita sebut Masjid yang ada di Indonesia memiliki beragam bentuk di setiap daerahnya dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut terjadi karena adanya akulturasi, contohnya seperti masjid Demak yang sudah ada sejak kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam pertama di Jawa. Masjid tersebut memiliki wujud akulturasi yang cirinya seperti, atapnya berbentuk tumpeng, tidak dilengkapi Menara, letaknya biasanya di dekat istana. Selain itu, terdapat bangunan  makam yang memiliki ciri wujud akulturasi dapat kita lihat dari letak bangunannya di atas bukit atau tempat – tempat keramat, makam terbuat dari batu, dan  makam terdapat kubah atau yang sering disebut nisan. Contohnya yaitu makam Sendang Duwur di Tuban. Yang terakhir bangunan istana, bangunan istana yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan akulturasi dari segi arsiterktur, ragam hias, maupun dari seni patungnya. Contohnya yaitu Istana Kesultanan Yogyakarta dengan patung penjaga Dwarapala yang merupakan patung agama Hindu.
            Kedua yaitu seni rupa. Seni ukir relief yang menghias masjid, makam, dan unsur Islam lainnya merupakan hasil perpaduan logam dan suluran tumbuh – tumbuhan agar ada keserasian di tengah ragam hias yang ada di Indonesia dan agama Islam itu sendiri, biasanya terdapat ukiran – ukiran kaligrafi terhadap hiasan tersebut. Selain ukiran, di masjid juga ditemukan gapura – gapura pada pintu atau tiang yang bercorak di luar Islam.
            Ketiga yaitu seni sastra. Seni sastra di Indonesia berhubungan dengan seni rupa. Hal ini dikarenakan huruf arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan atau ukiran. Wujud akulturasi dalam sastra terlihat dari tulisan yang dipergunakan untuk kitab melayu dan isi ceritanya juga yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Bentuk seni sastra yang berkembang adalah Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berasal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Babad adalah kirah rekaan pujangga keratin sering dianggap sebagai peristiwa sejarah. Suluk adalah kitab yang berisi soal – soal tasawwuf. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan, keajaiban, dan penentu hari baik/buruk. Bentuk seni sastra tersebut berkembang banyak di Melayu dan Pulau Jawa.
            Keempat yaitu sistem pemerintahan. Sebelum islam masuk ke Indonesia sudah berkembang pemerintahan bercorak Hindu atau Buddha yang memiliki sistem pemerintahan yaitu kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang arif, bijaksana, dan dipercaya memiliki kekuatan gaib. Namun setelah Islam masuk maka kerajaan – kerajaan yang bercorak Hindu/Buddha mengalami keruntuhan digantikan dengan peranan kerajaan yang bercorak Islam. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam juga memiliki seorang Raja yang bergelar Sultan/Sunan. Seperti hal nya para wali dan apabila Rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan secara dicandi, tetapi dimakamkan secara islam.
            Kelima yaitu sistem kalender. Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal kalender Saka/Hindu yang dimulai pada tahun 78 M. Dalam kalender Saka ditemukan nama – nama pasaran hari seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Namun setelah berkembangnya Islam, Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender jawa dengan menggunakan perhitungan seperti tahun hijriah (Islam). Pada kalender jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama – nama bulan seperti, Muharram digantikan dengan Syura, dan Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama – nama hari tetap digunakan sesuai dengan Bahasa arab dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan dikalender jawa. Kalender yang dibuat Sultan Agung dimulai tanggal 1 Syura 1555 jawa tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan pada tangga 8 Agustus 1633 M. Biasanya pada malam 1 syura atau 1 muharram akan diadakan upacara – upacara adat di Jawa untuk menyambut datangnya tahun baru Islam.  
            Yang terakhir yaitu pernikahan, cara pernikahan di Indonesia memiliki perbedaan budaya dengan negara lain. Hal ini dikarenakan adanya kebudayaan akulturasi dengan budaya Islam. Namun, tata cara pernikahannya tetap sama, hanya saja ditambahkan oleh beberapa upacara – upacara adat seperti sebelum melaksanakan ijab kobul, pada adat jawa akan diadakan pemandian baik dari mempelai wanita maupun mempelai pria. Pada era modern sekarang, diadakannya acara resepsi pernikahan setelah ijab kobul. Hal ini tidak ada diajaran agama Islam tetapi, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dalam budaya Indonesia.
            Sebenarnya hasil akulturasi budaya Islam dengan budaya Indonesia banyak menimbulkan pro dan kontra antara masyarakat awam dengan petinggi agama Islam seperti Ulama karena didalam akulturasi tersebut tidak terdapat diajaran agama Islam. Namun, kita sebagai masyarakat Indonesia yang tinggal dalam satu kesatuan dalam berbagai macam suku, bahasa, budaya, bahkan agama harus dapat bertoleransi dan menyikapi dengan hal tersebut demi menjaga keutuhan bangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia. Pada era modern sekarang juga tidak bisa kita samakan dengan zaman Islam dahulu karena terlalu banyak akulturasi yang tidak bisa dielakkan. Sebaiknya kita saling mengerti, menghargai, dan menghormati sesama antar umat beragama sehingga pro dan kontra yang terjadi pada saat ini dapat kita atasi. Akulturasi kebudayaan Islam yang ada di Indonesia juga menjadi ciri khas tersendiri dan dapat menarik Wisatawana atau Touris karena kita mampu hidup dalam berbagai macam keyakinan.